KEHIDUPAN SESEORANG BERGANTUNG PADA BAGAIMANA CARA BERPIKIR

POSITIVE dan NEGATIVE THINKING

Bro, aku lagi butuh 500 ribu, pentingggg bangetttt, darurat. Please, tolong pinjami aku dulu ya..”. Sahabatnya membalas, “Tunggu barang setengah jam ya broo, secepatnya nanti aku transfer”

Sudah lewat dari 1/2 jam, satu jam, dua jam, tapi sahabatnya, saudara’nya tidak juga memberi kabar. Ketika di telepon pun ternyata HP nya tidak aktif.

Ia pun mengirim SMS, “Selama ini aku tidak pernah mengecewakanmu brooo.Tapi kenapa sekarang engkau lari dariku?! Apa salahku?!”

Setelah dibaca, sahabatnya, saudaranya menelepon kembali dan berkata, “Ya Allah, semoga Allah mengampunimu, Aku tidak bermaksud mematikan HP untuk lari darimu. Aku mematikan HP karena aku sedang menjual HPku untuk membantu kebutuhanmu. Lalu, dari sisa penjualan, aku belikan HP second yang murah agar bisa menghubungimu”

Sahabat’ku..
Saudara’ku..
Manusia hari ini suka berprasangka karena lingkungan yang suka mempengaruhi

Ada sangkaan baik dan ada sangkaan buruk
Orang yang bersantai disangka malas
Orang yang pakai baju baru disangka pamer
Orang yang pakai baju buruk disangka tidak hormat
Orang makan banyak disangka rakus
Orang makan sedikit disangka “diet” ketat
Orang baik disangka buruk
Orang buruk disangka baik
Orang tersenyum disangka mengejek
Orang bermuka masam disangka menyindir
Orang mengkritik disangka tidak senang
Orang diam disangka menyendiri
Orang menawan disangka pakai susuk
Orang sering ikut kajian/ta’lim disangka kelompok aliran macam-macam

Siapa tahu..
Yang diam itu karena berdoa atau bersujud kepada TUHAN atau ALLAH..

Siapa tahu..
Yang tersenyum itu karena beramal..

Siapa tahu..
Yang bermuka masam itu karena mengenang dosa-dosanya..

Siapa tahu..
Yang menawan itu karena bersih hati dan pikirannya..

Siapa tahu..
Yang ceria itu karena cerdas pikirannya & senantiasa mengingat TUHAN..ALLAH….

Siapa tahu..
Yang sering ikut keagamaan itu haus ilmu

Kawan, mari hilangkan pikiran negatif, tanamkan pikiran positif. Agar hati bersih, pikiran tenang, dan hidup lebih sehat.

Salam sukses berjamaah????????

#paytrener
#thinkpositive

NASIHAT UNTUK PARA ISTRI

Saat kau sudah menjadi istri, sesekali pandanglah wajah suamimu ketika ia terlelap.
Itulah orang yang tiada hubungan darah dengan mu namun tetap terus berusaha mencintaimu.
Sesekali saat suami pulang bekerja atau dari tempat usahanya, pandang wajahnya, cium tangannya.
Itulah tangan yang bekerja keras mencari rizki untuk menafkahi dirimu dan anak-
anakmu.
Padahal, sebelum akad nikah ia tak punya hutang budi terhadapmu.
Bahkan ia mempunyai hutang budi terhadap Ibu bapaknya.
Ia memilihmu sebelum ia sempat membalas seluruh hutang budi kedua orang tuanya.
Sesekali saat kau berdua dengannya, lihatlah suamimu, pandanglah wajahnya dengan penuh sayang.
Itulah peribadi yang boleh jadi selalu menutupi masalah-masalah nya diluar rumah,
agar kau tak turut sedih karenanya.
Ia berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri
agar kau tidak ikut terbebani.
Sementara kau sering mengadukan masalahmu kepadanya,
berharap ia mau mengerti dan memberi solusi.
Padahal bisa jadi saat itu masalahnya lebih besar
daripada masalahmu.
Namun kau tetap yang
diutamakannya.
Semoga Allah jadikan keluarga kita sebagai keluarga yang Sakinah M
awaddah Warahmah… Amiin..Allahuma Aminn..

salam santun & ukhuwah
Kutipan dari :

@JUBAH IRENG@

NASEHAT UNTUK KITA

Bismillah…

Cinta itu bukan tentang mencari – cari sebuah kekurangan…

karena ketika kau cari kekurangannya, maka selalu akan kau temukan ..

akan tetapi, sudahkah kau lupa?

bahwasannya, tidak ada jiwa manusia yang sempurna..


dan cinta itu adalah bagaimana kita mampu / sanggup…
saling mengisi dan “menggenapkan” sisi kekurangan…
dan juga sisi “kekosongan” ….karena yang sempurna adalah 2 menjadi 1,bukan lebih…, tidak pula dengan ditambah…selalu syukuri, dan instropeksi diri.. dalam hal cinta,bukankah Allah pun mengajarkan tentang hal ini?jangan katakan tidak pernah,karena tarbiyah / pendidikan Allah adalah “kesempurnaan” ..yang tak akan kau dapati dalam buku – buku sainsmu / ilmiahmu..cek diri mulai detik ini!!!



KISAH INSPIRATIF YANG BANYAK MEMBUAT ORANG MENANGIS.

AKIBAT MENGAMBIL UANG IBU RP 150 Bismillahir-Rahmaanir-Rahim .. Ada satu kisah nyata yang sangat BERHARGA, diceritakan seorang trainer Kubik Leadership yang bernama Jamil Azzaini di kantor Bea dan Cukai Tipe A Bekasi sekitar akhir tahun 2005. Dalam berceramah agama, beliau menceritakan satu kisah dengan sangat APIK dan membuat air mata pendenga

r berurai. Berikut ini adalah kisahnya: Pada akhir tahun 2003, istri saya selama 11 malam tidak bisa tidur. Saya sudah berusaha membantu agar istri saya bisa tidur, dengan membelai, diusap-usap, masih susah tidur juga. Sungguh cobaan yang sangat berat. Akhirnya saya membawa istri saya ke RS Citra Insani yang kebetulan dekat dengan rumah saya. Sudah 3 hari diperiksa tapi dokter tidak menemukan penyakit istri saya. Kemudian saya pindahkan istri saya ke RS Azra, Bogor. Selama berada di RS Azra, istri saya badannya panas dan selalu kehausan. Setelah dirawat 3 bulan di RS Azra, penyakit istri saya belum juga diketahui penyakitnya. Akhirnya saya putuskan untuk pindah ke RS Harapan Mereka di Jakarta dan langsung di rawat di ruang ICU. Satu malam berada di ruang ICU pada waktu itu senilai Rp 2,5 juta. Badan istri saya –maaf- tidak memakai sehelai pakaian pun. Dengan ditutupi kain, badan istri saya penuh dengan kabel yang disambungkan ke monitor untuk mengetahui keadaan istri saya. Selama 3 minggu penyakit istri saya belum bisa teridentifikasi, tidak diketahui penyakit apa sebenarnya.Kemudian pada minggu ke-tiga, seorang dokter yang menangani istri saya menemui saya dan bertanya, “Pak Jamil, kami minta izin kepada pak Jamil untuk mengganti obat istri bapak.” “Dok, kenapa hari ini dokter minta izin kepada saya, padahal setiap hari saya memang gonta-ganti mencari obat untuk istri saya, lalu kenapa hari ini dokter minta izin ?” “Ini beda pak Jamil. Obatnya lebih mahal dan obat ini nantinya disuntikkan ke istri bapak.” “Berapa harganya dok?” “Obat untuk satu kali suntik 12 juta pak.” “Satu hari berapa kali suntik dok?” “Sehari 3 kali suntik.” “Berarti sehari 36 juta dok?” “Iya pak Jamil.” “Dok, 36 juta bagi saya itu besar sedangkan tabungan saya sekarang hampir habis untuk menyembuhkan istri saya. Tolong dok, periksa istri saya sekali lagi. Tolong temukan penyakit istri saya dok.” “Pak Jamil, kami juga sudah berusaha namun kami belum menemukan penyakit istri bapak. Kami sudah mendatangkan perlengkapan dari RS Cipto dan banyak laboratorium namun penyakit istri bapak tidak ketahuan.” “Tolong dok…., coba dokter periksa sekali lagi. Dokter yang memeriksa dan saya akan berdoa kepada Rabb saya. Tolong dok dicari” “Pak Jamil, janji ya kalau setelah pemeriksaan ini kami tidak juga menemukan penyakit istri bapak, maka dengan terpaksa kami akan mengganti obatnya.” Kemudian dokter memeriksa lagi. “Iya dok.”Setelah itu saya pergi ke mushola untuk shalat dhuha dua raka’at. Selesai shalat dhuha, saya berdoa dengan menengadahkan tangan memohon kepada Allah, -setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Rasululloh, “Ya Allah, ya Tuhanku….., gerangan maksiat apa yang aku lakukan. Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga engkau menguji aku dengan penyakit istriku yang tak kunjung sembuh. Ya Allah, aku sudah lelah. Tunjukkanlah kepadaku ya Allah, gerangan energi negatif apakah yang aku lakukan sehingga istriku sakit tak kunjung sembuh ? sembuhkanlah istriku ya Allah. Bagimu amat mudah menyembuhkan penyakit istriku semudah Engkau mengatur Milyaran planet di muka bumi ini ya Allah.” Kemudian secara tiba-tiba ketika saya berdoa, “Ya Allah, gerangan maksiat apa yang pernah aku lakukan? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga aku diuji dengan penyakit istriku tak kunjung sembuh?” saya teringat kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu, yaitu ketika saya mengambil uang ibu sebanyak Rp150,-. Dulu, ketika kelas 6 SD, SPP saya menunggak 3 bulan. Pada waktu itu SPP bulanannya adalah Rp 25,. Setiap pagi wali kelas memanggil dan menanyakan saya, “JaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar SPP ?” Malu saya. Dan ketika waktu istrirahat saya pulang dari sekolah, saya menemukan ada uang Rp150, di bawah bantal ibu saya. Saya mengambilnya. Rp75,- untuk membayar SPP dan Rp75,- saya gunakan untuk jajan. Saya kemudian bertanya, kenapa ketika berdoa, “Ya Allah, gerangan maksiat apa? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga penyakit istriku tak kunjung sembuh?” saya diingatkan dengan kejadian kelas 6 SD dulu ketika saya mengambil uang ibu. Padahal saya hampir tidak lagi mengingatnya ??. Maka saya berkesimpulan mungkin ini petunjuk dari Allah. Mungkin inilah yang menyebabkan istri saya sakit tak kunjung sembuh dan tabungan saya hampir habis. Setelah itu saya menelpon ibu saya, “Assalamu’alaikum Ma…”“Wa’alaikumus salam Mil….” Jawab ibu saya. “Bagaimana kabarnya Ma ?”“Ibu baik-baik saja Mil.” “Trus, bagaimana kabarnya anak-anak Ma ?” “Mil, mama jauh-jauh dari Lampung ke Bogor untuk menjaga anak-anakmu. Sudah kamu tidak usah memikirkan anak-anakmu, kamu cukup memikirkan istrimu saja. Bagaimana kabar istrimu Mil, bagaimana kabar Ria nak ?” –dengan suara terbata-bata dan menahan sesenggukan isak tangisnya-. “Belum sembuh Ma.” “Yang sabar ya Mil.” Setelah lama berbincang sana-sini –dengan menyeka butiran air mata yang keluar-, saya bertanya, “Ma…, Mama masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu ?” “Yang mana Mil ?”“Kejadian ketika Mama kehilangan uang Rp150,- yang tersimpan di bawah bantal ?” Kemudian di balik ujung telephon yang nun jauh di sana, Mama berteriak, (ini yang membuat bulu roma saya merinding setiap kali mengingatnya) “Mil, sampai Mama meninggal, Mama tidak akan melupakannya.” (suara mama semakin pilu dan menyayat hati), “Gara-gara uang itu hilang, mama dicaci-maki di depan banyak orang. Gara-gara uang itu hilang mama dihina dan direndahkan di depan banyak orang. Pada waktu itu mama punya hutang sama orang kaya di kampung kita Mil. Uang itu sudah siap dan mama simpan di bawah bantal namun ketika mama pulang, uang itu sudah tidak ada. Mama memberanikan diri mendatangi orang kaya itu, dan memohon maaf karena uang yang sudah mama siapkan hilang. Mendengar alasan mama, orang itu merendahkan mama Mil. Orang itu mencaci-maki mama Mil. Orang itu menghina mama Mil, padahal di situ banyak orang. …rasanya Mil. Mamamu direndahkan di depan banyak orang padahal bapakmu pada waktu itu guru ngaji di kampung kita Mil tetapi mama dihinakan di depan banyak orang. SAKIT…. SAKIT… SAKIT rasanya.” Dengan suara sedu sedan setelah membayangkan dan mendengar penderitaan dan sakit hati yang dialami mama pada waktu itu, saya bertanya, “Mama tahu siapa yang mengambil uang itu ?” “Tidak tahu Mil…Mama tidak tahu.” Maka dengan mengakui semua kesalahan, saya menjawab dengan suara serak, “Ma, yang mengambil uang itu saya Ma….., maka melalui telphon ini saya memohon keikhlasan Mama. Ma, tolong maafkan Jamil Ma…., Jamil berjanji nanti kalau bertemu sama Mama, Jamil akan sungkem sama mama. Maafkan saya Ma, maafkan saya….” Kembali terdengar suara jeritan dari ujung telephon sana,“Astaghfirullahal ‘Azhim….. Astaghfirullahal ‘Azhim….. Astaghfirullahal ‘Azhim…..Ya Allah ya Tuhanku, aku maafkan orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku. Maafkanlah dia ya Allah, ridhailah dia ya Rahman, ampunilah dia ya Allah.” “Ma, benar mama sudah memaafkan saya ?” “Mil, bukan kamu yang harus meminta maaf. Mama yang seharusnya minta maaf sama kamu Mil karena terlalu lama mama memendam dendam ini. Mama tidak tahu kalau yang mengambil uang itu adalah kamu Mil.” “Ma, tolong maafkan saya Ma. Maafkan saya Ma?” “Mil, sudah lupakan semuanya. Semua kesalahanmu telah saya maafkan, termasuk mengambil uang itu.”“Ma, tolong iringi dengan doa untuk istri saya Ma agar cepat sembuh.” “Ya Allah, ya Tuhanku….pada hari ini aku telah memaafkan kesalahan orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku. Dan juga semua kesalahan-kesalahannya yang lain. Ya Allah, sembuhkanlah penyakit menantu dan istri putraku ya Allah.” Setelah itu, saya tutup telephon dengan mengucapkan terima kasih kepada mama. Dan itu selesai pada pukul 10.00 wib, dan pada pukul 11.45 wib seorang dokter mendatangi saya sembari berkata, “Selamat pak Jamil. Penyakit istri bapak sudah ketahuan.” “Apa dok?” “Infeksi prankreas.” Saya terus memeluk dokter tersebut dengan berlinang air mata kebahagiaan, “Terima kasih dokter, terima kasih dokter. Terima kasih, terima kasih dok.” Selesai memeluk, dokter itu berkata, “Pak Jamil, kalau boleh jujur, sebenarnya pemeriksaan yang kami lakukan sama dengan sebelumnya. Namun pada hari ini terjadi keajaiban, istri bapak terkena infeksi prankreas. Dan kami meminta izin kepada pak Jamil untuk mengoperasi cesar istri bapak terlebih dahulu mengeluarkan janin yang sudah berusia 8 bulan. Setelah itu baru kita operasi agar lebih mudah.” Setelah selesai, dan saya pastikan istri dan anak saya selamat, saya kembali ke Bogor untuk sungkem kepada mama bersimpuh meminta maaf kepadanya, “Terima kasih Ma…., terima kasih Ma.”Namun…., itulah hebatnya seorang ibu. Saya yang bersalah namun justru mama yang meminta maaf. “Bukan kamu yang harus meminta maaf Mil, Mama yang seharusnya minta maaf.” Sahabat … Sungguh benar sabda Rasulullaah shalallaahu ’alaihi wa sallam : “Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim) “Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: orang yang berpuasa sampai dia berbuka, seorang penguasa yang adil, dan doa orang yang teraniaya. Doa mereka diangkat Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, ‘Demi keperkasaan-Ku, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera.” (HR. Attirmidzi) Kita dapat mengambil HIKMAH bahwa: Bila kita seorang anak … Janganlah sekali-kali membuat marah orang tua, karena murka mereka akan membuat murka Allah subhanahu wa ta’ala. Dan bila kita ingin selalu diridloi-Nya maka buatlah selalu orang tua kita ridlo kepada kita.Jangan sampai kita berbuat zholim atau aniaya kepada orang lain, apalagi kepada kedua orang tua, karena doa orang teraniaya itu terkabul. Bila kita sebagai orang tua … Berhati-hatilah pada waktu marah kepada anak, karena kemarahan kita dan ucapan kita akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan kadang penyesalan adalah ujungnya. Doa orang tua adalah makbul, bila kita marah kepada Anak, Berdoalah untuk kebaikan anak-anak kita, maafkanlah mereka….. Semoga kita di karuniai anak keturunan yang shaleh dan shalehah, yang pintar dan kreatif dan menjadi kebanggaan kita dalam kebaikan. Aamiin… ~salam jabat erat 


Waktu berharga pengasuhan anak  7 tahun pertama (0-7 tahun):  

Perlakukan anakmu sebagai raja.  Zona merah – zona larangan  jangan marah-marah, jangan banyak larangan, jangan rusak jaringan otak anak.  Pahamilah bahwa posisi anak yang masih kecil, saat itu yang berkembang otak kanannya.  7 tahun kedua (7-14 tahun):  Perlakukan anakmu sebagai pembantu atau tawanan perang. 
Zona kuning – zona hati-hati dan waspada.
Latih anak-anak mandiri untuk mengurus dirinya sendiri, mencuci piring, pakaian, setrika, dll.
Banyak pelajaran berharga dalam kemandirian yang bermanfaat bagi masa depannya. 7 tahun ketiga (14-21 tahun): Perlakukan anak seperti sahabat.Zona hijau – sudah bisa jalan. Anak sudah bisa dilepas untuk mandiri. Mereka sudah bisa dilepas sebagai duta keluarga. 7 tahun keempat (21-28 tahun):Perlakukan sebagai pemimpin. Zona biru – siap terbang. Siapkan anak untuk menikah. Pada masa anak-anak yang berkembang otak kanannya. Otak kiri berkembang saat usianya menjelang 7 tahun. Anak perempuan keseimbangan otak kanan dan kirinya lebih cepat. Sedangkan anak laki lebih lambat.????Keseimbangan otak kanan dan kiri pada anak laki-laki baru tercapai sempurna di usia 18 tahun, sedangkan anak perempuan sudah cukup seimbang otak kanan dan kirinya di usia 7 tahun. Ampun dah lama bener ya? Ternyata ada rahasia Allah mengapa diatur seperti itu √Laki-laki dipersiapkan untuk jadi pemimpin yang tegas dalam mengambil keputusan. Untuk itu, jiwa kreatifitas dan explorasinya harus berkembang pesat. Sehingga pengalaman itu membuatnya dapat mengambil keputusan dengan tenang dan tepat.√Sementara perempuan dipersiapkan untuk jadi regulator dan manajer yang harus penuh keteraturan dan ketelitian. ** Untuk memberikan intruksi pada anak, gunakan suara Ayah. Karena suaranya bus, empuk dan enak di dengar.** Kalau suara Ibu memerintah, cenderung melengking seperti biola salah gesek. Itu bisa merusak sel syaraf otak anak. 250rb sel otak anak rusak ketika dimarahin ** Solusinya, Ibu bisa menggunakan bahasa tubuh atau isyarat jika ingin memberikan instruksi. Suara perempuan itu enak didengar jika digunakan dengan nada sedang. Cocok untuk mendongeng atau bercerita. ++ Cara berkomunikasi yang efektif dengan anak: 1. Merangkul pundak anak sambil ditepuk lembut. 2. Sambil mengelus tulang punggung anak sampai ke tulang ekor. 3. Sambil mengusap kepala. Dengan sentuhan ada gelombang yang akan sampai ke otak anak sehingga sel-sel cintanya tumbuh subur.Mudah-mudahan bisa bermanfaat. Silahkan di share agar lebih banyak yang mengetahui … semoga bermamfaat …

Mikir Yang Kecil Untuk Hasil Yang Besar

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bismillahirrohmanirrohim…

Kita berada di Era yang sudah sangat berkembang, Teknologi yang sudah sangat maju dan kita sekarang berada di dunia Paytren, termasuk anda saat ini yang sedang membaca tulisan saya ini, sadar atau tidak sadar, anda telah berada di halaman Paytren. Sebuah bisnis yang ngurusi hal-hal yang kecil-kecil, Aplikasinya juga buat transaksi-transaksi yang relatif kecil-kecil, receh-receh, tapi hasilnya luar biasa besar banget…, gede bener gitu lho.

Nah kalau anda sudah berada di halaman ini, seharusnya anda sudah bergabung menjadi mitra Paytren, atau kalau memang anda belum bergabung, setelah membaca tulisan saya ini, sangat saya sarankan untuk segera bergabung menjadi mitra Paytren, tentunya dengan cara menghubungi saya sih, atau langsung aja lik tombol isi formulir yang ada di halaman ini!

Kenapa sangat saya sarankan, karena bisnis ini bisnis luar biasa gitu lho, bisnis ini dahsyat banget, spektakuler. Kita di bisnis ini diajari Ustadz Yusuf Mansur (Owner PT. Treni / Paytren) mikir yang kecil untuk hasil yang besar.

Maksudnya apa nih mikir yang kecil untuk hasil yang besar?

Selama ini kepikir nggak, hanya butuh pulsa 10 ribu aja, atau bahkan 5 ribu aja, kita harus jalan ke counter, atau jalan ke tetangga yang jual pulsa? Buat bayar listrik yang tiap bulan kita bayar nih, kita harus ngeluarin motor ke kantor pos, atau ke loket-loket pembayaran. Atau ada juga yang nunggu aja di rumah, biasanya ada tuh tetangga juga yang muter narik bayar listrik, tapi kita diwajibkan ngasih tambahan komisi buat yang narik, seribu dua ribu rupiah. Dan itu murni kita keluarin duit tok dan dapatnya ya cuman manfaat yang kita bayar tadi, yang tadi beli pulsa ya dapat pulsa tok, yang bayar listrik ya cuman dapat lunas tagihan listriknya tok, dan pembayaran lain-lain. Nah sebelumnya nggak kepikir kan, kalau itu semua kita simpelin, kita permudah, kita bisa bayar lewat aplikasi di smartphone kita, jadinya akan lebih murah, lebih meguntungkan malah, karena kalau kita pakai Paytren, kita dapat cashback (kembalian) setiap kita melakukan transaksi.

Mikir yang kecil lagi…, pas kita nongkrong…, ngopi bareng di warung kopi, atau ibu-ibu nih biasanya suka ngrumpi bareng tetangga. Ini hal kecil nih…, kadang nggak kepikir kalau hal-hal kecil seperti itu bisa ngehasilin pendapatan yang gede banget. Pasalnya kita belum kenal Paytren. Ketika sudah kenal Paytren, nongkrong, ngobrol, ngrumpi yang sebelumnya cuman dapat candaan, celaan, ngomong ngalor ngidul kadang juga nggak jelas, akhirnya jadi bernilai banget, berharga banget, dan nilainya mahal banget lho. Rp. 75 ribu rupiah berlipat-lipat lho kalau kegiatan kecil itu kita selipin ajakan buat berbagi manfaat, berbagi informasi, berbagi keuntungan gabung dengan Paytren, belum lagi yang nongkrong bareng kita tadi, suka juga nongkrong di tempat laen, trus ngobrolin paytren juga, berbagi manfaat dan keuntungan juga, ngajak-ngajakin orang juga untuk sama-sama dapat manfaat dan keuntungan gabung Paytren…, tuh seribu…, dua ribu…, ngalir terus tuh berupa komisi, bonus, cashback, yang akhirnya juga jadi reward-reward yang bisa didapatin. nilainya bukan lagi dibilang gede…, tapi gede banget! bukan jutaan, puluhan juta…, ratusan juta…, melainkan dah nyampek miliaran rupiah. Tuh… dari hal kecil tuh, kalau dipikirin bener-bener, dipelajarin, dido’ain, terus dibuat jalanin bisnis paytren…, hasilnya gede banget…, besar banget!

Mulai deh setelah baca tulisan ini, jangan sekali-kali abaikan hal kecil, urusan kecil, kegiatan kecil, nilai receh, nilai yang kecil, atau apa deh yang kecil-kecil pokoknya…he he he he…, coba pikirin…, pikirin bener-bener…, jadiin tuh hasil yang luar biasa besar. Salah satu ilmunya, gabung jadi mitra paytren. Bersama saya, jadi Mitra Pebisnis Aktif Paytren…, kita pikirin bareng-bareng yang kecil-kecil itu, kemudian kita jadiin hasil yang luar biasa besar.

Jangan lupa buat yang belum gabung, klik tombol “Isi Formulir” yang ada di halaman ini, mari kita berpikir positif, mikirin yang kecil untuk hasil yang besar, bersama saya Desi Dwi Andriyo, Mitra Pebisnis Paytren dari Mojokerto.

Alhamdulillah…

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Hidup antara mengumpulkan koin dan poin

Dalam menjalani hidup, sebenarnya kita hanya berkisar antara mengumpulkan koin dan memperbanyak poin. Maksud koin dalam hidup di sini sama halnya dengan koin di permainan Super Mario. Dalam game Super Mario, Mario sebagai petualang yang menjalani berbagai rute. Dia harus mencari koin untuk memperbanyak poin. Koin di situ sebagai sarana untuk mendapatkan poin. Oleh sebab itu, ketika koin didapatkan, koin tersebut hancur lalu berubah menjadi poin yang menjadi bekal di sepanjang perjalanannya menuju titik akhir. Jadi, Super Mario tidak membawa koin utnuk menuju ke finish, dia membawa poin.

Permainan Super Mario tersebut, coba kita kontekskan ke dalam kehidupan kita. Kita berada di dunia ini senantiasa menjalani waktu hingga titik akhir hembusan nafas kita. Tentu dalam perjalanan kehidupan kita, ada koin dan poin, sebagaimana dalam game Super Mario. Konyolnya, ada sebagian orang yang tidak mengerti tentang kedua hal tersebut, bahwa koin hanya sebagai sarana untuk mendapatkan poin. Namun, bagi mereka koin tersebut tidak djadikan sarana untuk memperbanyak poin, mereka lebih suka mengumpulkan koin saja.

Dalam konteks kita, koin hanya sebagai nilai formalitas dalam kehidupan, sementara poin adalah nilai kualitas di sisi Allah. Harta merupakan koin yang menjadi sarana untuk mendapatkan poin. Poin dari harta adalah menggunakannya untuk kepentingan dan kebaikan di jalan Allah. Semisal harta digunakan untuk nafkah istri dan keluarga, disumbangkan untuk masjid, musollah, orang fakir dan miskin, dan lembaga pendidikan atau pesantren, dan seterusnya.

Jika seseorang dilihat dari antara mengumpulkan koin dan memperbanyak poin, maka ada seseorang yang sibuk mengumpulkan koin saja tanpa memperbanyak poin. Ada yang mengumpulkan koin yang tujuannya untuk memperbanyak poin. Ada yang memperbanyak poin tanpa menghiraukan koin.

Seseorang yang sibuk mengumpulkan koin saja tanpa memperbanyak poin

Seseorang yang hidupnya sibuk dengan mengumpulkan harta tanpa menggunakannya untuk kepentingan dan kebaikan di jalan Allah, berarti dia hanya mendapatkan koin saja tanpa akan menikmati poin kelak. Orang yang seperti ini biasanya, semisal dalam dunia bisnis, sering melakukan penipuan. Tujuannya untuk mendapatkan hasil yang banyak dan takut terjadi kerugian.

Semisal juga dalam dunia pendidikan, jika seorang guru hanya memikirkan koin, dia tidak mau rajin dan serius mengajar jika tidak mendapatkan gaji yang besar. Jadi, tujuan dia menjadi guru hanya untuk mendapatkan koin yaitu uang, tidak bertujuan untuk mendapatkan poin yaitu nilai pengabdian pada ilmu yang pasti mendapat jaminan dari Allah.

Begitu juga yang marak terjadi dalam dunia politik dan jabatan pemerintahan. Mereka yang doyan korupsi karena mereka mementingkan koin. Dalam hati dan pikirannya sama sekali tidak ada impian untuk mendapatkan poin dari jabatannya. Andai kata mereka lebih memikirkan poin, tentu tidak akan melakukan korupsi.

Seseorang mengumpulkan koin bertujuan untuk memperbanyak poin

 Ada seseorang yang mengumpulkan koin, tapi tujuannya untuk memperbanyak poin. Semisal dia bekerja keras atau memiliki usaha bisnis yang besar, tapi hasil dari kerja atau bisnisnya digunakan untuk kepentingan dan kebaikan di jalan Allah. Orang yang seperti ini, dalam kerja atau bisnisnya, tidak akan melakukan penipuan untuk mendapatkan keuntungan besar atau menghindar dari kerugian yang besar pula.

Mengumpulkan sekian koin untuk memperbanyak poin merupakan sikap yang sangat mulia. Allah tidak pernah melarang kita memiliki pekerjaan yang hasilnya melimpah atau memiliki usaha yang besar. Allah hanya melarang kita melakukan penipuan, melakukan penyalahguaan harta, dan merampas atau mencuri harta orang lain.

Seseorang Yang Memperbanyak Poin Tanpa Menghiraukan Koin

Ada seseorang yang hidupnya lebih mendahulukan poin, sementara koin baginya sama sekali tidak bernilai apa-apa atau tidak menarik. Orang seperti ini selalu ingin banyak beramal tanpa melalui harta. Dia melakukan banyak kebaikan dengan bakatnya, kemampuannya, atau ilmunya. Meskipun dia bekerja medapatkan uang, hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam pikiran dan hatinya tidak pernah terbesit ingin memiliki harta yang banyak, mobil mewah, rumah besar dan megah, dan lain-lain.

Semisal dia menjadi bisnismen sukses, ketika dia menjalani bisnisnya, dia tidak pernah melakukan penipuan meski dia tahu akan mengalami kerugian. Ketika mendapatkan hasil yang melimpah, dalam pikirannya bagaimana uangnya bisa menjadi amal jariyah.

Semisal juga, jika dia menjadi seorang guru atau dosen, dia hanya berniat berbagi ilmu, berusaha mencerdaskan anak didiknya, dan mengembangkan lembaga pendidikan yang menjadi amanahnya. Masalah gaji, jika ada diterima, jika tidak ada bersabar serta meyakini bahwa Allah yang akan menjamin hidupnya.

Begitu juga, ketika orang tersebut menjadi pejabat pemenrintah, dia hanya ingin menjalani amanahnya sebagai pejabat dan akan bertanggung jawab penuh dengan apa yang menjadi tugasnya. Dia tidak pernah merasa bangga dengan jabatannya. Dia sama sekali tidak begitu menikmati dengan fasilitas yang disediakan oleh Negara. Dia selalu meyakini bahwa semua ini hanya sekedar titipan, bahkan dia beranggapan bahwa ini ujian yang harus dijalani dengan hati-hati.

(Dikutip dari: Buku NasiHati jilid I, Oleh Muhammad Taufiq Maulana)